HANYA BUIH

Bagaimanapun aku berteriak

Membawa gemuruh angin dari jauh

Tidak asaku menyela

sedikitpun tempat di hatimu

 

Walau engkau mengaku

Di telapak aku merayu

Namun apalah…

Aku hanya akan mengalum

 

Dari terbit surya mendayu

Lalu ombak hingga ke tepi

Engkau tetap tidak terusik

Kala asa menjadi buih

 

Buih – buih yang hilang

Di antara laut yang tenang

Ketika kau melangkah kembali

Advertisements

Seperti Biasa

Aku melihat mobilnya berhenti di lampu merah pada jam 5.50 , Selasa sore. Dengan rambut yg terurai membelai sisi-sisi wajahnya. Dia duduk tegap dan wajahnya mengarah ke jendela, menatap sisi jalan dengan mimik yang sayu, seakan – akan ada yang mengecewakannya. Seperti biasa…

Kadang – kadang dia akan mengikat rambutnya ke bagian belakang agak keatas. Sehingga aku dapat melihat headset – nya. Pernah juga aku melihat rambutnya yang sedikit masih basah, mungkin ia terburu – buru sehingga tidak ada waktu untuk mengeringkannya. Yang paling aku suka adalah saat dia pergi lebih cepat. Sekitar pukul 5.30 dia sudah ada di lampu merah ini. Karena.. dia akan melantunkan lagu yang sedang dia dengar, seperti bicara sendiri. Dan bila aku beruntung , dia akan bernyanyi sambil sedikit mengayunkan kepalanya.

Aku tetap di sini, selalu di sini. Hujan ataupun terik, aku di sini diwaktu yang sama dengan skateboard – ku, tidak pernah lupa untuk mengamatinya setiap kali dia melewati sisi jalan ini.

Beberapa waktu dia akan melihat kearahku sambil memiringkan kepalanya. Mungkin dia mulai mengenali wajahku.. mungkin. Dengan rambut yang sedikit berantakan, menggemaskan.

 

Hari ini…

dia tidak duduk di posisi biasanya, dia duduk di bagian sebelah kiri namun masih menghadap kearahku. Sepertinya dia mengangkat kakinya ke kursi sehingga dia bisa mengarahkan seluruh badannya ke posisi itu.

Ada guratan damai yang tidak pernah aku dapati sebelumnya

biasanya dia terlihat sangat lelah dan sepertinya ada ribuan masalah yang harus dia selesaikan saat itu juga

Namun hari ini, dia tertidur dengan helai rambut yang menyapu wajahnya..

dan seperti biasanya…

dia cantik sekali…

(tidak akan)

keraguan menyapu seluruh tubuhku.

ragu itu tidak pernah benar – benar menakutkanku,

terus merayu, mempermainkanku.

Ketika kamu menujukan tanganmu padaku dengan terbuka..

 

Tangan itu yang menggenggamku,meremasnya ketika gemas

Tangan hangat yang membelai pipiku, menuntun daguku kearahmu

Menunjuk bekas lukaku dan mengusapnya berkali – kali

Yang selalu aku peluk kecil dan sandarkan keningku

Yang menarik dan merangkul pinggangku ketika aku berdiri terlalu jauh

 

Mana mungkin rayuan ragu itu benar, ketika yang ada dihadapanku, kenyataannya,tangan itu memintaku,

Kembali

 

Sudah lama..

Semua ragu itu berubah menjadi dendam, lalu benci, lalu terlupakan

Sudah lama, aku tidak menghitungnya lagi

Semua ragu itu hanya terlupakan

 

Tidak mungkin ragu ini benar, ketika kamu begitu dekat dihadapanku,

Benar – benar menghampiriku..

Menggenggam tanganku..

Membawaku kembali, ke tempat yang selalu kurindu..

Aku ingat, rasanya..

tidak ada yang tidak akan aku lakukan untuk berada disini, lagi

tempatmu, selalu disini, tidak pernah ada yang lain

andai kamu tahu

 

namun, aku juga ingat..

kehilanganmu bukanlah saat – saat yang sanggup aku lalui lagi

bukan saat – saat dimana aku bisa melangkahkan kakiku dengan ringan

bukan saat – saat dimana aku bisa menghirup nafasku dengan lega

tangisan itu berenti, bukan sembuh, hanya habis

semua perasaan yang tidak berada di tempatnya

jika terbahasakan…

aku hanya bisa bilang

tidak apa – apa

 

aku akan pergi kemanapun kamu pergi

akan selalu membahagiakanmu dan membuat mimpimu menjadi kenyataan

aku akan selalu menghangatkanmu di setiap kesendirian

aku akan ada disana, selamanya

agar kamu tahu, aku melihatmu

 

dihadapanku, tanganmu yang menunggu tanganku

seperti tidak nyata..

tidak hanya tanganku, seluruh jiwaku akan kutumpahkan saat ini ke genggamanmu..

 

namun aku ragu, selamanya ragu

setelah kamu melepaskan genggaman itu untuk kedua kalinya.

Aku tahu rasanya, tidak tahu bagaimana mengungkapkannya

Bukan aku ingin merasakannya lagi.

Namun tanganmu, ada dihadapanku..

Aku hanya tidak memiliki kuasa untuk tidak membalasnya

Bagaimana caranya aku menoleh kebelakang dan membiarkan tanganmu sendiri..

 

Ragu ini tidak pernah menjadi dendam atau benci

ragu ini hanya mengalun, merdu..

menyanyikan tidurku, mimpiku..

lagi

lagi

 

tidak, aku tidak akan lagi meraih tangan itu

tidak, walaupun seluruh tubuh dan jiwaku tidak pernah benar – benar lepas dari tangan itu..

tidak, walaupun aku haus akan kebahagiaan itu

tidak..

walaupun hanya aku yang akan tetap disana

untukmu

apapun adanya