Sunny Day in Floral Palazzo

image2image3image4image5image6image7image1

Advertisements

HANYA BUIH

Bagaimanapun aku berteriak

Membawa gemuruh angin dari jauh

Tidak asaku menyela

sedikitpun tempat di hatimu

 

Walau engkau mengaku

Di telapak aku merayu

Namun apalah…

Aku hanya akan mengalum

 

Dari terbit surya mendayu

Lalu ombak hingga ke tepi

Engkau tetap tidak terusik

Kala asa menjadi buih

 

Buih – buih yang hilang

Di antara laut yang tenang

Ketika kau melangkah kembali

(tidak akan)

keraguan menyapu seluruh tubuhku.

ragu itu tidak pernah benar – benar menakutkanku,

terus merayu, mempermainkanku.

Ketika kamu menujukan tanganmu padaku dengan terbuka..

 

Tangan itu yang menggenggamku,meremasnya ketika gemas

Tangan hangat yang membelai pipiku, menuntun daguku kearahmu

Menunjuk bekas lukaku dan mengusapnya berkali – kali

Yang selalu aku peluk kecil dan sandarkan keningku

Yang menarik dan merangkul pinggangku ketika aku berdiri terlalu jauh

 

Mana mungkin rayuan ragu itu benar, ketika yang ada dihadapanku, kenyataannya,tangan itu memintaku,

Kembali

 

Sudah lama..

Semua ragu itu berubah menjadi dendam, lalu benci, lalu terlupakan

Sudah lama, aku tidak menghitungnya lagi

Semua ragu itu hanya terlupakan

 

Tidak mungkin ragu ini benar, ketika kamu begitu dekat dihadapanku,

Benar – benar menghampiriku..

Menggenggam tanganku..

Membawaku kembali, ke tempat yang selalu kurindu..

Aku ingat, rasanya..

tidak ada yang tidak akan aku lakukan untuk berada disini, lagi

tempatmu, selalu disini, tidak pernah ada yang lain

andai kamu tahu

 

namun, aku juga ingat..

kehilanganmu bukanlah saat – saat yang sanggup aku lalui lagi

bukan saat – saat dimana aku bisa melangkahkan kakiku dengan ringan

bukan saat – saat dimana aku bisa menghirup nafasku dengan lega

tangisan itu berenti, bukan sembuh, hanya habis

semua perasaan yang tidak berada di tempatnya

jika terbahasakan…

aku hanya bisa bilang

tidak apa – apa

 

aku akan pergi kemanapun kamu pergi

akan selalu membahagiakanmu dan membuat mimpimu menjadi kenyataan

aku akan selalu menghangatkanmu di setiap kesendirian

aku akan ada disana, selamanya

agar kamu tahu, aku melihatmu

 

dihadapanku, tanganmu yang menunggu tanganku

seperti tidak nyata..

tidak hanya tanganku, seluruh jiwaku akan kutumpahkan saat ini ke genggamanmu..

 

namun aku ragu, selamanya ragu

setelah kamu melepaskan genggaman itu untuk kedua kalinya.

Aku tahu rasanya, tidak tahu bagaimana mengungkapkannya

Bukan aku ingin merasakannya lagi.

Namun tanganmu, ada dihadapanku..

Aku hanya tidak memiliki kuasa untuk tidak membalasnya

Bagaimana caranya aku menoleh kebelakang dan membiarkan tanganmu sendiri..

 

Ragu ini tidak pernah menjadi dendam atau benci

ragu ini hanya mengalun, merdu..

menyanyikan tidurku, mimpiku..

lagi

lagi

 

tidak, aku tidak akan lagi meraih tangan itu

tidak, walaupun seluruh tubuh dan jiwaku tidak pernah benar – benar lepas dari tangan itu..

tidak, walaupun aku haus akan kebahagiaan itu

tidak..

walaupun hanya aku yang akan tetap disana

untukmu

apapun adanya